Mengenal Lebih Jauh Karakter Melankolis Yang Sebenarnya

Sunday, December 22nd 2013. | Ensiklopedia

 photo melankoliscopy_zps137375fe.jpg
Pada umumnya, orang awam cenderung mengartikan “melankolis” sebagai karakter yang gampang menangis dan rapuh, atau bahasa gaulnya mudah galau. Benarkah begitu? Ilmu psikologi berkata lain.
Dalam dunia psikologi terdapat empat watak atau karakter manusia, yaitu Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis. Kebanyakan orang menyimpulkan bahwa karakter melankolis itu “cemen” karena sifat mereka yang sering melow, padahal orang melankolis itu orang yang luar biasa. “Si sempurna”, itulah julukan untuk orang-orang yang memilik karakter ini. Julukan ini diberikan untuk mereka karena para melankolis selalu menginginkan segala hal berjalan dengan baik. Selain itu, para Melankolis juga seorang pengamat dan pendengar yang baik. Walaupun mereka cenderung pendiam, tapi bukan berarti mereka acuh akan sekitarnya. Mereka dapat menganalisa hal-hal disekelilingnya.

Para melankolis juga seorang pemerhati yang baik. Jika orang-orang disekitar kalian ada yang sangat perhatian, kemungkina besar orang tersebut memiliki watak melankolis. Para melankolis biasa perhatian pada orang-orang disekitarnya, seperti keluarga,sahabat, teman dan kekasih. Namun terkadang perhatiannya suka disalahtafsirkan oleh orang lain (terutama jika si melankolis dan orang tersebut berbeda jenis kelamin), seolah ada udang di balik batu.

Melankolis juga seorang pencinta keindahan. Maka dari itu, mereka akrab dengan seni dan otak kanan mereka lebih mendominasi dari otak kiri mereka. Namun bukan berarti para seniman pasti memiliki karakter melankolis dan para ilmuwan tidak berkarakter melankolis.

Mereka memiliki kepekaan yang kuat. Sifat mereka yang peka ini mendorong kuatnya fikiran jangka panjang mereka, sehingga jika ada hal yang tak menyenangkan menusuk perasaanya secara berkelanjutan, mereka akan sangat marah dan terus menimbun perasaan marah ini hingga menjadi dendam. Untuk menghapus perasaan dendam ini, mereka butuh waktu yang sangat lama hingga bertahun-tahun.

Kekurangan dari karakter “sempurna” ini adalah cenderung pesimis dan sering merasa tertekan. Namun ada alasan mereka tetap bergelut dalam sifat ini, yaitu mereka butuh kekuatan. Dan berbicara tentang kekuatan besar, tentu ini mengacu kepada Yang Maha Tinggi. Benar, Tuhanlah tempat ketergantungan mereka. Dengan sugesti mereka yang selalu menginginkan ekuatan besar sebagai penopang, ini membuat kebanyakan Melankolis dekat dengan Tuhan (religius).

Melankolis memang tak pilih-pilih dalam berteman, namun melankolis sangat selektif dalam sharing. Dan tak diragukan, jika melankolis akan cepat merasa nyaman dengan plegmatis dan tak segan untuk “membuka diri” dengan mereka.

tags: , , , , , , , , ,